it's posts with tag: fiction
aku memandang wajah di depanku, di dalam cermin itu. wajah yang merupakan pantulan dari wajahku sendiri. tapi entah mengapa aku merasa asing melihatnya. aku memperhatikan eye shadow dan maskara yang terlukis rapi di kelopak mataku. juga lipstik yang memudar di bibirku. aku bahkan tidak ingat kapan aku memakai semua make up itu di wajahku.
kubuka keran air dan kubasuh wajahku beberapa kali. riasan itu mulai hilang. tapi aku baru menyadari bahwa kedua mataku berwarna abu-abu. aku mengernyitkan kening, bukankah mataku berwarna hitam?
tiba-tiba pintu di belakangku terkuak. seorang lelaki berwajah menarik masuk dan langsung memeluk pinggangku dari belakang. aku terlonjak kaget dan menghindarinya. "maura, aku menunggumu dari tadi. kenapa lama sekali??" "siapa kamu?" "maura, jangan bercanda kamu..." lelaki itu mengikutiku dan terus berusaha memelukku. "maura? aku bukan maura! aku luna!" kudorong tubuhnya sekuat tenaga hingga ia mundur beberapa langkah. "jangan mendekat!"
"bitch! kamu yang tadi merayuku dan mengajakku ke tempatmu. kamu bilang ingin bercinta denganku. tapi kenapa sekarang kamu malah nolak aku?!" lelaki itu mulai kesal.
terkejut aku mendengar ucapannya. kepalaku menggeleng keras. "aku nggak kenal kamu. maaf..." aku mulai terhuyung. kepalaku tiba-tiba sakit. "tadi kamu panggil aku siapa? maura? namaku luna. bukan maura. mungkin kamu salah orang..." "nggak, nona. aku bersamamu sejak tadi. sejak awal kamu masuk club, kamu menghampiriku, lalu kita kenalan. sepanjang malam kamu merayuku. lalu kamu ajak aku ke tempatmu." "ha?" aku benar-benar bingung dengan apa yang dikatakannya. club? kenalan? merayu? aku tidak pernah merasa melakukan itu. "lalu kamu bilang mau ke toilet sebentar. aku tunggu di kamar. tapi karena lama, aku susul kamu ke sini. tapi tiba-tiba kamu bertingkah aneh. maumu apa sih??"
aku menggeleng keras. kutekan-tekan kepalaku dengan kasar. "aku sama sekali nggak ingat..."
lelaki itu kebingungan. "hey, kamu kenapa? sakit?"
pertanyaannya tidak kujawab. aku hanya memandang ke sekeliling ruangan. dan berhenti pada kaca besar di depanku. aku kembali terkejut. baru kusadari bahwa aku memakai gaun yang nyaris memperlihatkan seluruh kulitku. sejak kapan aku memiliki baju seperti ini?? aku mulai gemetar.
"maura? kamu sakit?" "aku bukan maura!"
 | taxi | Oct 15, '06 11:59 PM for everyone |
seorang perempuan berdiri di trotoar, melambaikan tangannya ke arah beberapa taksi yang bergerak ke arahnya. sebuah taksi berhenti dan perempuan itu pun segera masuk dari pintu belakang. ia memberi tahukan tujuannya kepada supir, lalu taksi pun bergerak.
sepanjang perjalanan perempuan itu lebih banyak diam. hanya memandang ke luar jendela dengan tangan memangku dagunya. jam menunjukkan pukul 11 malam.
sementara si supir taxi merasa gelisah sepanjang perjalanan. sebentar-sebentar ia mengusap rambutnya sendiri sampai ke tengkuknya. sebentar-sebentar ia menghela nafas. dan kepalanya pun celingukan. kentara sekali kalau ia sedang gelisah.
si perempuan mau tak mau melihat gejala kegelisahan supir taksi itu. awalnya ia tidak memperhatikan dan tidak terlalu peduli. namun lama kelamaan ia penasaran.
"kenapa pak? ngantuk ya?"
supir taksi tidak menjawab. dia diam dan terus menyetir sambil melakukan aktivitas kegelisahannya itu. si perempuan memutuskan untuk tidak bertanya lagi. diam-diam ia terus memperhatikan si supir taksi.
"oke... kiri sini, pak," si perempuan menyuruh taksi berhenti di depan sebuah rumah. ia membayar ongkos taksi itu lebih dari angka yang tertera pada argo. lalu perempuan itu keluar dari taksi. taksi itu pun pergi.
hanya berjarak beberapa meter dari penumpangnya yang baru saja ia turunkan, cepat-cepat ia mengambil radionya dan berbicara pada temannya yang berjaga di pool.
"gila, man. barusan gue nganterin cewek... waktu nyetop sih dia sendirian... trus dia masuk, juga sendirian. eehh pas taksi gua jalan, guae ngelirik dari kaca spion... ternyata di jok belakang ada dua orang!" "ha? kok bisa gitu?" "gue takut banget, man. cewe itu sih biasa aja. nah orang yang satu lagi tinggi gede dan berbulu. gue cuma bisa ngeliat lehernya aja. kepalanya gak ada. nembus sampe atap taksi gua kali. wah mobil ini harus segera diruwat nih, buang sial!" "waduh... trus cewe itu gimana?" "gak tau deh... tadi dia udah turun di depan rumahnya. orang yg tinggi gede itu juga turun. gue ga berani mau bilangin dia, takutnya dia jadi takut krn diikutin gendruwo..." .....
beberapa meter di belakang taksi itu. seorang perempuan baru saja turun dari taksi, masuk ke dalam rumahnya, dan langsung ke kamar. setelah melepas sepatu, ia duduk di sisi tempat tidur dan memandangi cincin berbatu merah delima kecil di jari manisnya. "hei, lain kali kalo lagi di luar gak usah keluar dari sini. kasihan supir taksi tadi ketakutan ngeliat kamu..." ucapnya pelan sambil mengusap2 batu merah delima itu.
aku memundurkan kursiku, sedikit agak menjauh dari layar monitor. lalu melakukan senam kecil untuk melemaskan sendi-sendi, terutama di bagian leher. bunyi-bunyi halus sendi terdengar begitu aku menggerakkannya. sudah hampir satu jam aku duduk di depan komputer tanpa bergerak. pantas saja semua sendiku terasa kaku dan leherku pegal-pegal. tidak sampai 5 menit kemudian aku kembali asik di depan komputer.
dua jam kemudian pegal di leherku semakin berat. sudah berulang kali aku mencoba melemaskannya, bahkan aku merebahkan diri di tempat tidur selama beberapa menit, tetap saja sekitar leher dan pundakku terasa pegal. seperti menahan beban berat.
kuusap leher belakangku. dan menghela nafas. lalu aku ke kamar mandi.
aku berdiri di depan westafel dan menatap tajam ke cermin. ke arah pundakku sendiri.
"sudah berapa kali kubilang? kalo kamu berkunjung ke sini, jangan langsung nangkring di pundakku. berat, tauuu...?!"
dari cermin itu aku melihat pantulan sebuah bayangan samar yang sedang duduk di atas pundakku. pelan-pelan ia bergerak turun.
rasa pegal itu pun hilang.
aku tersenyum ke arah bayangan pucat samar di sampingku. "aku juga kangen kamu, sayang. maaf udah dua bulan gak ke makam kamu. aku lagi sibuk..."
taman itu terletak di tengah kota dan terbilang sangat luas. dengan
sebuah tugu tinggi besar dihiasi lampu warna warni, pohon-pohon rindang
di sekelilingnya, dan rumput hijau yang menghampar luas. Bangku-bangku
taman berjejer dan tersebar di sepanjang pinggir jalan kecil, di bawah
pohon, di bawah lampu, atau sudut-sudut taman dengan lampu taman yang
menerangi beberapa tempat. namun dengan taman seluas itu, sinar lampu
tidak terlalu menerangi seluruh area. Ada beberapa tempat yang remang
temaram atau bahkan cenderung gelap.
malam sudah agak tinggi. namun hampir semua bangku taman masih terisi
oleh pasangan. kami duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke
tugu. pemandangan indah. beberapa meter di samping kiri, kanan, dan
depan kami ada beberapa pasang muda mudi yang sedang asik bermesraan.
sebentar kemudian kami pun ikut larut dalam suasana dan menjadi salah
satu di antara mereka.
pasanganku mulai sibuk dengan 'kerajinan tangannya', namun aku tahan.
"kenapa?" tanyanya. sedikit agak gusar.
"nggak enak. banyak orang," jawabku sambil memutar kepalaku ke sekeliling.
"halah mereka juga lagi sibuk sendiri. gak bakal ada yang perhatiin
deh... lagipula sama-sama lagi pacaran ini... udah tau sama tau lah..."
"o, ya? yakin?"
"iya, sayang..." ia menutup mulutku agar tak banyak tanya lagi dengan bibirnya. kami pun saling mencumbu.
malam semakin tinggi dan kami semakin "panas". rasanya tangan kami menjadi lima kali lipat lebih banyak.
"o, sayang... kamu bikin aku turn on nih... rasanya aku mau makan kamu..." bisiknya nakal.
"hehehe... aku juga jadi lapar nih... rasanya mau makan kamu juga..."
"hahaha... try me, babe..." dia menantangku.
"bener nih?" aku menghentakkan kemejanya hingga kancingnya terlepas. dia tertawa kegelian ketika aku mulai menjilati lehernya.
"kamu liar, sayang! hahaha! lanjutkan!" erangnya sambil menahan tawa. dia pun menggeliat kegelian.
lalu ia mulai meringis ketika aku mulai menggigitnya.
"sayang jangan pake gigi dong!"
aku tidak peduli. kubenamkan gigiku di lehernya.
"sayang apa yg kamu lakukan?"
aku semakin membenamkan gigiku dan mulai menghisap.
"hey stop it, bitch! u're hurting me!"
dia berusaha melepaskan cengkeramanku. meronta-ronta dan mulai memukuli
aku. tapi aku tidak bergeming. aku terus mereguk darahnya. tetes demi
tetes. sampai akhirnya dia lemas. lunglai di tanganku.
aku melepaskannya.
dia pun jatuh ke tanah. dengan dua lubang bekas gigitan di lehernya dan wajah yang pucat karena kehabisan darah.
aku melompat ke dahan pohon di atasku. membersihkan sisa darah yg
menempel di sudut bibirku dengan lidah. mengusap perutku yang
kekenyangan sambil bersendawa.
semuanya hampir sempurna. kafe yg cozy dengan pencahayaan minim, live music yang menyanyikan lagu2 oldies romantis, sofa yg empuk dengan bantal2 nyaman, cake lezat, cappuccino nikmat, dan lelaki tampan di sebelahku yang tidak pernah sedetikpun melepaskan genggaman tangannya ke tanganku.
percakapan pun berkembang dari percakapan biasa sampai ke percakapan yang lebih pribadi. posisi duduk kami pun bertambah dekat dan lekat, sampai2 kami dapat mencium wangi parfum masing2. dan sampailah pada suatu saat kami hanya saling berpandangan, tidak ada lagi kata-kata yang muncul dari bibir kami, hanya mata yang berbicara. mata yang menghujam satu sama lain. dan gerakan tubuh yang berbicara lebih lugas daripada bahasa verbal.
secara bersamaan wajah kami mendekat dalam gerakan lambat. aku dapat merasakan nafasnya menggelitik sebagian wajahku. hmmm... wangi kopi.
jantungku berdegup kencang. wajah kami semakin mendekat. tiba-tiba aku teringat sesuatu. dengan panik aku menggerakkan kedua tanganku ke depan seakan menyuruhnya berhenti. dia pun berhenti, dengan posisi terakhirnya. musik pun berhenti, membuat suasana menjadi sepi. aku mundur sedikit dan melihat ke sekeliling. para pemain musik dan vokalisnya masih dalam posisi bermain musik dan bernyanyi, hanya saja tubuh mereka tidak bergerak sama sekali. begitu juga tamu-tamu yang lain dan pelayan2nya. aku seperti di tengah2 museum patung lilin. semua berhenti pada posisi terakhirnya. bahkan wine yang sedang dituang oleh seorang pelayan di salah satu meja pun tidak mengucur ke dalam gelas.
semua berhenti di tempat.
aku berdiri dari tempat dudukku sambil tersenyum memandangi wajah kencanku yang terlihat lucu dengan posisi seperti itu. kemudian aku berjalan ke toilet. di sana ada seorang wanita sedang mencuci tangannya. namun sama seperti orang-orang di luar, dia pun tidak bergerak. demikian juga air dari kran, membeku seperti es. aku berjalan santai ke arah westafel.
di depan kaca aku membuka mulut dan memeriksa sesuatu di deretan gigi gerahamku. seperti yang kuduga, ada sesuatu yang tersangkut di situ. kucungkil benda mungil itu dari sela-sela gigi dan berhasil mengambilnya. kuperhatikan bentuknya. ah, ternyata hanya serpihan kuku. tadi sebelum dia menjemputku, aku menunggunya sambil mengemil snack kesukaanku. baby fingers chips. yang biasa aku makan dengan saus darah segar dan sedikit cairan otak. aku tidak pernah bisa menolak hasrat ngemil makanan itu, bahkan ketika ia sudah berada di depan pintu aku masih menjilat lumuran saus darah yg bersisa di ujung bibirku.
aku memeriksa mulutku lagi. sudah bersih. tapi masih belum puas aku pun menyikat gigi. kran yang kupegang bisa mengalirkan air seperti biasa. setelah selesai dan yakin bahwa nafasku sudah segar dan tidak ada lagi sisa2 kuku atau tulang jari halus di sela2 gigiku, aku keluar dari toilet dan kembali ke tempat dudukku. setelah mengatur posisi seakan aku tidak pernah bergerak, aku menggerakkan tanganku lagi di udara.
musik kembali berbunyi. suara denting piring dan sendok kembali terdengar. juga suara langkah kaki pelayan dan obrolan tamu di meja masing2.
dan wajahnya, lebih tepatnya bibirnya, semakin dekat ke arahku... dan kami pun berciuman. saling memagut.
"nafas kamu wangi sekali..." bisiknya mesra.
aku tersenyum. menyeringai.
| |