it's posts with tag: complain

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag complain
Blog Entrykartu kredit BNI: to whom it may concernJan 23, '07 10:05 PM
for everyone
Kepada Yth
Pengurus Kartu Kredit BNI
 
 
Saya menulis semua ini bukan untuk mencampuri urusan hutang piutang seseorang dengan pihak bank, tapi karena saya merasa terganggu oleh telepon-telepon dari pihak BNI yang sudah seperti teror untuk keluarga saya.
 
Saya Ita. Teman saya, N.O (lahir 18 Oktober 19**), adalah pemegang kartu kredit BNI. Memang nama saya yang dicantumkan untuk urusan darurat pada waktu mengisi aplikasi kartu kredit. Awalnya saya tidak keberatan jika saya ditelepon dan dimintai informasi. Karena saya juga mencantumkan namanya untuk urusan darurat juga pada aplikasi kartu kredit saya. Kebetulan dulu kami bertetangga dan berteman sejak kecil.
 
Namun beberapa bulan belakangan ini keluarga saya merasa terganggu oleh telepon-telepon dari pihak BNI yang menanyakan tentang keberadaan N.O (selanjutnya disebut “ybs” = yang bersangkutan), teman saya itu. Memang, ybs telah pindah rumah setelah dia menikah. Tetapi hanya dia dan suaminya yang pindah, keluarganya tetap tinggal di rumah lama. Itu pun pindahnya juga tidak terlalu jauh, hanya berjarak kurang lebih 100 meter. Tapi karena kesibukan kami masing2, kami jarang sekali bertemu.
 
Mungkin, ketika pihak BNI menelepon ke HP-nya tidak bisa dihubungi, karena memang dia ganti nomor HP. Lalu pihak BNI menelepon ke rumah saya. Berhubung pihak BNI menelepon di siang hari, otomatis saya tidak pernah ada di rumah karena saya sedang berada di kantor. Ibu saya yang berada di rumah lah yang menjawab telepon. Tentu saja beliau tidak tahu apa-apa. Ibu saya hanya tahu bahwa ybs sudah pindah, namun beliau tidak tahu nomor HP ybs yang baru.
 
Ibu saya menyampaikan hal tersebut ke saya sewaktu saya di rumah. Lalu saya berinisiatif menelepon ybs dan menyampaikan hal tersebut. Saya pikir urusan sudah selesai. Ybs sudah tahu bahwa pihak BNI mencarinya, dan urusan dia dengan BNI bisa diselesaikan sendiri.
 
Namun pihak BNI kembali menelepon rumah saya dengan pertanyaan yang sama. Tidak hanya dua kali atau tiga kali tapi berkali-kali dan kadang di waktu-waktu yang mengganggu seperti waktu tidur siang (di rumah ada keponakan saya yang masih kecil) dan waktu sholat. Lama kelamaan Ibu saya merasa benar-benar terganggu. Sehingga saya bilang ke ibu kalau pihak BNI telepon lagi suruh saja telepon ke rumah lama ybs atau ke HP saya (08151000****), nanti saya kasih info. Dan, lagi-lagi, saya beritahu ybs bahwa pihak BNI mencarinya.
 
Beberapa waktu kemudian tidak ada lagi telepon dari BNI. Saya pikir urusan sudah beres.
 
Tapi ternyata keluarga saya kembali merasa terganggu oleh telepon-telepon dari BNI. Apalagi nada bicara si penelepon marah-marah. Orang di rumah saya semakin kesal dimarahi orang tak dikenal untuk urusan yang mereka tidak tahu apa-apa. Saya pun kembali menghubungi ybs. Tapi waktu itu dia memang susah dihubungi.
 
Sekitar dua minggu yang lalu pihak BNI kembali menelepon ke rumah saya. Kebetulan saya ada di rumah karena sedang sakit, tidak masuk kantor. Maka saya jelaskan semuanya. Saya beri nomor HP ybs yang baru (987**** (esia) – setidaknya itu nomor HP terakhirnya yang saya tahu). Saya juga bilang ke si penelepon kalau nomor rumahnya masih yang lama (392****) dan masih ditempati keluarganya. Saya pikir saya sudah beri semua informasi tentang ybs yang saya tahu. Selanjutnya pihak BNI silakan menghubungi nomor-nomor yang saya berikan. Habis perkara.
 
Tapi ternyata masih saja pihak BNI menelepon ke rumah. Dengan nada marah-marah pula. Puncaknya kemarin sore, kebetulan adik saya yang menerima telepon. Adik saya marah karena si penelepon marah-marah dan mengancam serta menyuruh saya yang membayar hutang ybs.
 
Kesabaran saya dan keluarga sudah habis.
 
Saya langsung menelepon ybs, kebetulan yang mengangkat adalah suaminya. Saya ceritakan semua. Lalu saya juga menelepon BNI dan mengadukan keberatan saya. Saya bilang saya tidak keberatan kalau dimintai keterangan, tapi kalau sudah puluhan kali telepon, sudah beri semua informasi yang saya tahu, tapi masih juga menanyakan hal yang sama, tentunya saya jadi merasa terganggu. Apalagi dengan nada marah-marah dan pakai ancaman segala. Kenapa jadi keluarga saya yang diteror? Kenapa jadi saya yang harus bertanggung jawab? Kalau ybs tidak bisa dihubungi, bukan berarti saya yang harus bertanggung jawab. Memang nama & nomor telepon saya dicantumkan di aplikasi, tapi hanya sekedar sebagai pemberi informasi jika diperlukan dan dalam keadaan darurat. Bukan sebagai penanggung jawab.
 
Setelah saya menghubungi BNI, saya kembali menghubungi ybs. Masih suaminya yang mengangkat telepon. Ternyata nomornya itu dipakai suaminya dan ybs memakai nomor baru (flexi). Saya bahkan tidak tahu nomor telepon itu. Tapi saya tetap bicara pada suami ybs dan meminta mereka untuk menghubungi BNI.
 
Sekali lagi saya tekankan, saya menulis semua ini bukan untuk mencampuri urusan ybs, tapi karena saya merasa keberatan oleh telepon-telepon dari pihak BNI yang sudah seperti teror untuk keluarga saya. Karena saya pikir saya sudah memberikan semua informasi yang saya tahu dan saya juga sudah menyampaikan hal tersebut kepada ybs. Tapi mengapa masih saja diteror?????
 
Urusan hutang piutang ybs dengan BNI bukan urusan saya. Kebetulan saya hanya orang yang bisa dihubungi jika keadaan darurat. Tapi SAYA BUKAN ORANG YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB.
 
Yang saya heran, kenapa pihak BNI selalu mencari ybs ke rumah saya? Kenapa tidak telepon ke rumahnya? Tentu BNI punya data-datanya kan? Jika saja pihak BNI menelepon ke rumahnya, yg saya yakin nomor teleponnya dicantumkan di aplikasi kartu kreditnya, beserta alamat rumahnya tentu, pasti keluarganya akan memberi informasi yang lebih akurat dibanding saya. Kenapa tidak mendatangi alamat rumah yang tercantum di aplikasi tapi malah mengancam akan mendatangi rumah saya? Dan kenapa bisa sampai berpuluh-puluh kali menelepon dengan masalah yang sama? Apakah informasi yang saya berikan terakhir tidak dicatat dan tidak di-follow up??
 
Jika ingin mendatangi rumah saya, silakan. Asal datang dan bicara dengan baik-baik, saya akan menunjukkan rumah lama ybs dan rumah barunya juga.
 
Perlu diketahui bahwa saya juga nasabah BNI. Tapi sejauh ini tidak ada masalah. Jangan sampai hal ini berpengaruh buruk pada saya dan membuat saya menjadi tidak simpati lagi kepada BNI.
 
Demikian complain dari saya. Mohon diperhatikan. Karena ternyata kasus ini bukan hanya saya saja yang pernah mengalami. Tapi teman kantor saya juga pernah mengalaminya, dimarah-marahi pihak bank hanya karena dia saudara dari seseorang yang tidak membayar kartu kredit. Padahal dia baru saja pulang dari luar kota, tidak tahu apa-apa.
 
Saran saya, boleh saja menelepon orang yg namanya tercantum sebagai orang yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat, tapi tolong dengan nada baik-baik. Jangan marah-marah dan mengancam segala. Jika kami tahu, maka kami akan memberi tahu. Jika tidak, itu sudah di luar kuasa kami. Karena belum tentu kami tahu semuanya. Seharusnya pihak bank lebih pintar dalam mencari data dan mem-follow up semua informasi terbaru yang sudah diberikan. Jangan hanya mengandalkan telepon dan memarahi orang yang ketiban sial karena nomor teleponnya ada di surat aplikasi.
 
 
 
Terima kasih atas perhatiannya.
Semoga semua urusan cepat selesai.
 

Salam,
 
Ita
 

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help